Share |
Tampilkan postingan dengan label Motivasi dan Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi dan Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 April 2011

Kisah Gadis Desa Yang Tersisip

Arus urbanisasi yang kemudian meluas dalam globalisasi mengucurkan air liur para gadis desa. Melihat teman-teman sebaya yang mudik dengan kulit bersih bebas daki plus dandanan seksi aneka rupa benar-benar bikin hati mulai tergiur. Terbersitlah dengus di dada seorang gadis, “Aku mau seperti mereka!” Tekad baja untuk segera meninggalkan kampung halaman mencuat sedemikian kuat.

Untung pun dapat diraihnya. Hidup baru di tempat baru menggelinding cepat. Dengan sedikit polesan saja, tampang, body, dan gemulainya bikin berkedut mata yang memandang. Tak butuh waktu lama, dompetnya sudah penuh barang baru: kartu tabungan. Dunia terasa indah dirasa. Matanya nanar dalam kesukaan. Sesekali setumpuk uang dikirim untuk ibunya yang sedirian di desa.

Di tengah terang benderang di siang bolong, tiba-tiba petir menyisir hati menjadi getir. Tak tahu mengapa, perasaan itu menusuk sampai di ulu hati. Meski sekian banyak pencapaian dinikmati, tetapi sanubari tak mati. Ada residu yang mengguratkan jeritan untuk menghentikan keadaan bobrok yang bertahun-tahun dialami. Kehidupan baru sebagai seorang pelacur tak menandaskan kebahagiaan sempurna.

Lelehan air mata mulai membual dari sumbernya. Ia sedih, menangis, dan menyesal. Martabatnya serempak menggeliat serasa diinjak-injak. Meski bau harum alami ramuan kraton mengoles kulitnya yang semakin halus mulus, ia tetap merasa terhina. Dalam gumpalan uang yang berserak-serak, batinnya tersiksa. Ia terkulai, lemas, dan kaku.
Di ujung kepedihan mendalam, ia mantap untuk pulang. Setelah kerja malam, ia melangkah kembali ke desanya. Dahulu berangkat dengan riang gembira menukil sejuta harapan, kini pulang dengan kaki gontai penuh gemetaran. Ia menatap pilu halaman rumahnya. Secercah muncul keheranan, lampu depan di beranda masih menyala. “Ada tamu rupanya?” pikirnya. Gagang pintu dipegang, wooow… tak terkunci. Namun, tidak ada tamu yang menyaru. Ia pun langsung mempercepat langkah menuju pintu kamar ibunya.

Pelan-pelan ia ketok-ketok pintu kamar itu. Secepatnya pintu terbuka. Gadis pun bertanya, “Ibu apakah ada tamu?” Jawab ibu dalam kekagetan itu, “Tidak ada tamu kok. Setiap hari memang begitu.”

“Kok pintu gerbang terbuka dan pintu rumah tidak dikunci? Lampu juga tetap bernyala, Bu?” tanyanya dengan nada sedikit tinggi. Ibu itu berkata dengan lembut, “Anakku… Sejak Engkau pergi dari rumah ini, pintu tidak pernah aku kunci. Lampu selalu bernyala pada malam hari. Karena ibu tahu, kapan saja Engkau mau kembali pintu itu tetap terbuka untukmu.

Rumah ini tetap Engkau punya. Ibu tahu bagaimana dirimu di seberang sana. Namun, ibu tetap mencintai Engkau, apapun dan bagaimanapun Engkau. Masuklah anakku… Aku bahagia Engkau pulang!” Mereka kemudian berpelukan erat dan menangis haru.

Rabu, 23 Maret 2011

22 Maret 2011

ku ingin bercerita tentang kejadian yang memilukan kemarin tanggal 22 maret 2011. ingin merupakan sebuah 'uneg-uneg 2011' haha.


ketika jam menunjukkan jarum panjang di angka 11.30 WIB, ada kejadian yang baru pertama kali aku saksikan. ada sebuah keramaian di sebuah masjid yang berlokasi di sebuah perumaha Taman Raya Citayam. siang itu aku dan teman-teman sedang berada dirumah lucky untuk mendiskusikan rencana liburan ke Taman Bunga Nusantara. karena penasaran kami pun mendatangi tempat keramaian itu. kami bertanya kepada seoarng tukang ojek yang juga berada disana. "pak ada apa?" tanya salah seorang teman saya. tukang ojek menjawab"ada tabrak lari dek." nah loh ??


lalu dia menjelaskan, "tadi orang itu ngebut-ngebut di noble." noble itu sebuah jalan yang menghubungkan perumahan Taman Raya Citayam dengan Jalan Baru Pemda. si tukang ojek lalu penasaran kenapa di jalan yg kecil ada sebuah mobil ngebut sekencang-kencangnya. tanpa pikir panjang si tukang ojek pun beramai-ramai mengejar mobil yang ngebut itu. itu cerita menurut si tukang ojek.


nah akhirnya si tersangka tertangkap di masjid sedang bersembunyi. warga yang penasaran pun berbondong-bondong datang, termasuk kami. si tersangka mengaku bahwa ia baru saja menabrak seseorang di karadenan, namun kabur sampai sejauh ini. sungguh malang nasibnya, dah ketangkep, juga kena beberapa botem mentah dari warga.


nah ini dia klimaksnya. ketika jam menunjukkan pukul 12 siang, suara adzan berkumandang. warga semakin banyak yang berdatangan untuk melihat. saya dan toha yang mendengar adzan memutuskan untuk sholat terlebih dahulu.


aneh yaa, kenapa ? suara adzan terdengar jelas sudah berkumandang, namun warga malah tetap menonton tersangka yang di amankan di rumah seorang warga. dalam hati saya prihatin melihat antusias warga yang begitu penasarang dengan kejadian itu. karena jujur saja, masjid yang didepan mata, yang hanya tinggal melangkah 4-5 langkah sudah sampai namun diacuhkan untuk melihat kejadian itu. sampai imam mengucapkan salam, tak seorang pun dari warga yang berangkat ke masjid. saya hanya melihat anak-anak TK dan guru-gurunya yang kebetulan bersampingan dengan masjid, serta beberapa orang warga yang memang sudah biasa sholat di masjid.


ini sungguh memilukan, jujur saja adzan yang begitu jelas kalah dengan kejadian yang sedang berlangsung. astagfirullah, ampuni dosa hamba jika hamba termasuk orang-orang tersebut. mungkin saya juga masih seperti itu kadang-kadang, tapi selaku muslim saya juga prihatin melihatnya. saya dimasjid duduk melihat kerumunan warga yang masih berkerumun. dalam hati kecewa, namun saya juga tak bisa menghakimi. hanya diam saya melihatnya.

Rabu, 09 Maret 2011

Delapan kebohongan Ibu

A Story that I cannot forget ..

( sebuah cerita yang tak dapat aku lupakan )

1. Cerita ini dimulai ketika aku masih kecil, saya terlahir sebagai anak lelaki dari sebuah keluarga miskin. Yang terkadang untuk makan pun kita sering kekurangan. Kapanpun ketika waktu makan, ibu selalu memberikan bagian nasi nya untuk saya. Ketika beliau mulai memindahkan isi mangkuknya ke mangkuk saya, dia selalu berkata “Makanlah nasi ini anak ku. Aku tidak lapar”

ini adalah kebohongan Ibu yang pertama.

2. Ketika aku mulai tumbuh dewasa, dengan tekun nya ibu menggunakan waktu luangnya untuk memancing di sungai dekat rumah kami, dia berharap jika dia mendapatkan ikan, dia dapat memberikan aku sedikit makanan yang bergizi untuk pertumbuhan ku. Setelah memancing, dia akan memasak ikan tersebut menjadi sup ikan segar yang meningkatkan selera makan ku. Ketika aku memakan ikan tersebut, ibu akan duduk disebelah ku dan memakan daging sisa ikan tersebut, yang masih menempel pada tulang ikan yang telah aku makan. Hatiku tersentuh sewaktu melihat hal tersebut, aku menggunakan sumpitku dan memberikan potongan ikan yang lain kepadanya. Tetapi dia langsung menolaknya dengan segera dan mengatakan ” Makanlah ikan itu nak, aku tidak seberapa menyukai ikan”

Itu adalah kebohongan ibu yang ke dua

3. Kemudian, ketika aku berada di bangku sekolah menengah, untuk membiayai pendidikan ku, ibu pergi ke sebuah badan ekonomi (KUD) dan membawa kerajinan dari korek api bekas. kerajinan tersebut menghasilkan sejumlah uang untuk menutupi kebutuhan kami. Ketika musim semi datang, aku terbangun dari tidurku dan melihat ibuku yang masih terjaga, dan ditemani cahaya lilin kecil dan dengan ketekunan nya dia melanjutkan pekerjaan nya menyulam. Aku berkata “Ibu, tidurlah, sekarang sudah malam, besok pagi kamu masih harus pergi bekerja.” Ibu tersenyum dan berkata “Pergilah tidur, sayang. Aku tidak Lelah.”

Itu adalah kebohongan ibu yang ke tiga

4. Pada saat Ujian akhir, ibu meminta izin dari tempat ia bekerja hanya untuk menemaniku. Pada saat siang hari dan matahari terasa sangat menyengat, dengan tabah dan sabar ibu menugguku dibawah terik sinar matahari untuk beberapa jam lamanya. Dan setelah bel berbunyi, yang menandakan waktu ujian telah berakhir, Ibu dengan segera menyambutku dan memberikan ku segelas teh yang telah beliau siapkan sebelumnya di botol dingin. kental nya teh terasa tidak sekental kasih sayang dari Ibu, yang terasa sangat kental. Melihat ibu menutup botol tersebut dengan rasa haus, langsung saya memberikan gelasku dan memintanya untuminum juga. Ibu berkata “Minumlah, nak. Ibu tidak haus!”

Itu kebohongan ibu yang ke empat

5. Setelah kematian ayahku yang disebabkan oleh penyakit, Ibuku tersayang harus menjalankan peran nya sebagai orang tua tunggal. dengan mengerjakan tugasnya terlebih dahulu, dia harus mencari uang untuk memenuhi kebutuhan kami sendiri. Hidup keluargaku menjadi semakin kompleks. Tak ada hari tanpa kesusahan. Melihat keadaan keluargaku pada saat itu yang semakin memburuk, ada seorang paman yang tinggal dekat rumahku datang untuk menolong kami, baik masalah yang besar dan masalah yang kecil. Tetangga kami yang lain yang tinggal dekat dengan kita melihat kehidupan keluarga kami sangat tidak beruntung, Mereka sering menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang sangat keras kepala, tidak memperdulikan nasihat mereka, dia berkata ” Saya tidak butuh cinta”

Itu adalah kebohongan ibu yang ke lima

6. Setelah saya menyelesaikan pendidikanku dan mendapatkan sebuah pekerjaan. itu adalah waktu bagi ibuku untuk beristirahat. Tetapi dia tetap tidak mau; dia sangat bersungguh-sungguh pergi ke pasar setiap pagi, hanya untuk menjual beberapa sayuran untuk memenuhi kebutuhan nya. Saya, yang bekerja di kota yang lain, sering mengirimkan beliau sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan nya, tetapi Beliau tetap keras kepala untuk tidak menerima uang tersebut. Beliau sering mengirim kembali uang tersebut kepadaku. Beliau berkata “Saya punya cukup uang”

itu adalah kebohongan ibu yang ke enam

7. Setelah lulus dari program sarjana, kemudian saya melanjutkan pendidikan saya ke tingkat Master, saya mengambil pendidikan tersebut, dibiayai oleh sebuah perusahaan melalui sebuah program beasiswa, dari sebuah Universitas terkenal di Amerika. Akhirnya saya bekerja pada perusahaan tersebut. Dengan gaji yang lumayan tinggi, saya berniat untuk mengambil Ibu dan mengajak nya untuk tinggal di amerika. Tetapi Ibuku tersayang tidak mau merepotkan anak lelakinya, Beliau berkata kepadaku “Saya tidak terbiasa”

itu adalah kebohongan ibu yang ke tujuh

8. Sewaktu memasuki masa tua nya, ibu terkena kanker tenggorokan dan harus dirawat di rumah sakit. Saya yang terpisah sangat jauh dan terpisah oleh lautan, segera pulang ke rumah untuk mengunjungi ibuku tersayang. Beliau terbaring lemah ditempat tidurnya selepas selesai menjalankan operasi. Ibu yang terlihat sangat tua, menatapku dengan tatapan rindu yang dalam. Beliau mencoba memberikan senyum diwajahnya. meskipun terlihat sangat menyayat dikarenakan penyakit yang dideritanya. Itu sangat terlihat jelas bagaimana penyakit tersebut menghancurkan tubuh ibuku. dimana beliau sangat terlihat lemah dan kurus. Saya mulai mencucurkan airmata di pipi dan menangis. Hatiku sangat terluka, teramat sangat terluka, melihat ibuku dengan keadaan yang demikian. Tetapi ibu, dengan segala kekuatannya, berkata “jangan menangis, anakku sayang, Ibu tidak sakit”

Itu adalah kebohongan ibu yang ke delapan

After saying her eighth lie, my dearest mother closed her eyes forever!

(setelah megatakan kedelapan kebohongan nya, Ibuku tersayang menutup matanya untuk selamanya!)

Artikel ditulis oleh : Mohammad Usman, Jeddah, SAUDI ARABIA

Kamis, 21 Oktober 2010

Keluar Dari Penjara Pikiran Negatif

Di British Columbia, dibangun sebuah penjara baru untuk menggantikan penjara Fort Alcan lama yang sudah digunakan untuk menampung para narapidana selama ratusan tahun. Setelah para napi dipindahkan ke tempat tinggal mereka yang baru, mereka menjadi bagian dari pasukan pekerja untuk mencopoti kayu, alat-alat listrik, dan pipa yang masih dapat digunakan dari penjara lama. Di bawah pengawasan para penjaga, napi-napi itu mulai melucuti dinding-dinding penjara lama.

Saat mereka melakukannya, mereka terperanjat oleh apa yang mereka temukan. Walaupun gembok-gembok besar mengunci pintu-pintu logam, dan batangan-batangan baja dua inci menutupi jendela sel-sel, dinding-dinding penjara itu sebenarnya terbuat dari kertas dan tanah liat, dicat sedemikian rupa sehingga menyerupai besi! Jika ada dari para narapidana yang memukul atau menendang dinding itu dengan keras, mereka dengan mudah dapat membuat lubang di situ, dan melarikan diri. Selama bertahun-tahun, bagaimanapun juga, mereka tinggal berjubel dalam sel-sel terkunci mereka, menganggap bahwa melarikan diri adalah
sesuatu yang mustahil.

Tak seorang pun pernah MENCOBA melarikan diri, karena mereka BERPIKIR itu mustahil.


Sahabat….

Saat ini pun banyak orang yang terpenjara dan berpikir mereka tidak mampu lagi untuk keluar dari penjara tersebut. Ya… mereka terpenjara oleh pikiran negative yang ada dalam dirinya. Mereka memiliki impian besar, namun mereka terpenjara oleh rasa takut. Mereka tak pernah berusaha mengejar impian – impian tersebut karena berpikir hal tersebut merupakan sesuatu yang mustahil. Mereka enggan mengejar impiannya karena menganggap mereka memiliki keterbatasan dalam dirinya.

Sahabat…

Memiliki impian besar adalah sesuatu yang mulia. Jangan pernah mengubur semua impian anda hanya karena keterbatasan yang ada pada diri anda. Banyak sekali orang-orang yang sukses memiliki keterbatasan dalam hidupnya. Banyak para konglomerat yang ada pada saat ini terlahir dari keluarga yang miskin, banyak pengusaha dan pebisnis besar yang memulai usahanya dengan modal dengkul alias nol, banyak tokoh-tokoh besar di dunia yang memiliki kekurangan fisik, banyak pula orang-orang besar yang tidak mengenyam pendidikan formal. Namun mereka telah membuktikan bahwa kekutan impian dan cita-citalah yang membuat mereka termotivasi untuk gigih memperjuangkan kehidupannya.

Bagaimana dengan kita?

Ingin menjadi orang2 yang terpenjara oleh rasa takut dan pikiran negatif...

Atau berusaha mendaobrak keterbatasan dan kemudian mampu mengukir sejarah kita..

Semua hal-hal yang besar berawal dari keberanian untuk memulai..

(Sally Berger)

Selasa, 14 September 2010

Berlari...Atau...Gigit Jari !

Apa yang akan dilakukan oleh seorang Atlet lomba lari ketika wasit menembakkan pistol tanda perlombaan dimulai? ya, mereka akan berlangsung berlari secepat mungkin menuju garis finish
apa yang dilakukan team sepakbola atau team olahraga lain ketika wasit meniup tanda pertandingan dimulai? ya.. mereka akan langsung tancap gas berusaha mengungguli team lawannya.

Apa yang terjadi ketika mereka tidak langsung tancap gas dan berlari? tentunya mereka akan tertinggal jauh oleh peserta lainnya, dan ketika mereka sadar, mereka akan terpana (tidak percaya) karena telah jauh tertinggal oleh peserta lainnya.

Sahabat... 
Dalam kehidupan ini pun kita berlomba. Allah memberikan peluang yang sama pada setiap hambanya, untuk berlari secepat mungkin menuju garis finish mereka. Allah memberikan peluang pada kita untuk berlomba-lomba menjadi yang terbaik (fastabikhul khoirot)

Namun, fenomena yang banyak kita temui adalah justru banyak orang yang bersantai ketika perlombaan telah dimulai. Mereka tidak sadar kalau mereka telah tertinggal jauh dari rekan-rekan seusianya yang terus berusaha keras berlari menuju impiannya. dan ketika mereka sadar mereka akan terpana dan berkata dalam hati... "kok yang lain sudah mapan, gw masih begini aja", "kok yang lain sudah nyaman, gw masih kerja keras". 

Sahabat...
BERLARILAH SEBELUM TERLAMBAT!!!
Kerjakanlah sesuatu yang sederhana dari hal yang bisa anda lakukan saat ini, mulailah dari hal-hal yang kecil dan jangan pernah meremehkan langkah kecil tersebut. Bukankah ribuan kilometer akan bisa ditempuh kalau kita memulai langkah pertama? Seseorang pun tidak bisa langsung naik ke lantai kelima, tetapi dia harus menaiki dan melewati satu demi satu anak tangga barulah sampai pada tingkat lima.

Perjalanan yang jauh hanya akan tercapai kalau langkah pertama diambil.
Bahkan seekor siput pun dapat menempuh jarak yang sangat jauh .


Rahasia besar yang harus diketahui tentang orang-orang besar yang berhasil mewujudkan mimpinya adalah mereka tidak langsung berhasil mewujudkan mimpi besarnya itu, tetapi mereka dengan sabar melakukan aktivitas yang pada saat itu bisa mereka lakukan kendatipun itu adalah hal yang kecil. Dan mereka mnenyadari bahwa setiap aktivitas yang mereka lakukan adalah bagian dari langkahnya untuk mewujudkan impian-impian besarnya tersebut.

BERLARILAH SEBELUM MENYESAL!!!
Banyak mahasiswa yang ketika kuliah mereka santai, tapi menyesal saaat teman-teman yang lainnya lulus dan dia belum mengerjakan apa-apa.
Banyak pelajar yang santai dan menyesal ketika di akhir tahun ajaran harus menerima kenyataan tidak lulus.
Banyak orang yang ketika masih mudanya lebih banyak santai dan bermain menyesal karena ketika sudah menjelang tua mereka belum mendapatkan apa-apa.

BERLARILAH SEBELUM GIGIT JARI!!!

Sebelum Kamu Mengeluh

Sebelum kamu mengeluh tentang pekerjaanmu...
Pikirkanlah tentang seseorang yang tidak memiliki pekerjaan atau seseorang yang sedang berusaha keras mencari pekerjaan.

Sebelum kamu mengeluh mengenai rumahmu...
Pikirkanlah tentang seseorang yang hidupnya harus pindah dari satu kolong jembatan ke kolong jembatan lainnya.

Sebelum kamu mengeluh tentang rasa makananmu..
Pikirkanlah tentang seseorang yang mengisi kekosongan perutnya dari sisa-sisa makanan orang lain.

Sebelum kamu mengeluh karena tidak memiliki apa-apa...
Pikirkanlah tentang seseorang yang menadahkan tangannya meminta belas kasihan orang lain di jalanan.

Sebelum kamu mengeluh tentang pasangan hidup anda...
Pikirkanlah tentang seseorang yang setiap harinya berdoa agar dipertemukan dengan jodohnya.

Sebelum kamu mengeluh tentang anak-anakmu...
Pikirkanlah tentang seseorang yang sangat berharap memiliki generasi penerus namun tidak bisa karena dia steril

Sebelum kamu mengatakan sesuatu yang kurang baik dan dapat menyakiti hati orang lain...
Pikirkanlah seseorang yang tidak bisa berbicara sama sekali.

Sebelum kamu berkeluh kesah tentang kondisi dirimu...
Pikirkanlah tentang orang-orang cacat yang tidak memiliki anggota tubuh yang sempurna.

Sebelum kamu menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain...
Ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa.

Ketika kamu sedang bersedih dan hidupmu dalam kesusahan, tersenyum dan berterima kasihlah kepada Allah SWT bahwa kamu masih hidup dan kesempatan.

Sesungguhnya keadaan tidak akan pernah berubah dengan hanya berkeluh kesah.
Berusahalah semaksimal mungkin biarkan dan serahkan semuanya pada Allah (Qs: 13:11)

Sabtu, 04 September 2010

Penyesalan Orang Yang Meninggal Khusnul Khotimah

ANDAIKATA LEBIH PANJANG LAGI…ANDAIKATA YANG MASIH BARU…ANDAIKATA SEMUANYA…

Seperti biasa ketika hari Jum’at tiba para kaum lelaki berbondong-bondong menunaikan ibadah Sholat Jum’at ke Masjid, ketika itu ada seorang Sahabat sedang bergegas menuju ke Masjid, di tengah jalan berjumpa dengan orang buta yang bertujuan sama. Si buta itu tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntunnya, lalu sahabat ini dengan sabar dan penuh kasih membimbingnya hingga tiba di masjid.

Pada hari yang lain ketika waktu menjelang Shubuh dengan cuaca yang amat dingin, Sahabat tersebut hendak menunaikan Jama’ah Sholat Shubuh ke Masjid, tiba-tiba ditengah jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, hampir mati kedinginan, kebetulan Sahabat tadi membawa dua buah mantel, maka ia mencopot mantelnya yang lama untuk diberikan kepada lelaki tua tersebut dan mantelnya yang baru ia pakai.

Pernah juga pada suatu ketika Sahabat tersebut pulang ke rumah dalam keadaan sangat lapar, kemudian sang istri menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur dengan daging, namun tiba-tiba ketika hendak memakan roti yang sudah siap santap untuk dimakan tadi datanglah seorang musafir yang sedang kelaparan mengetuk pintu meminta makan, akhirnya roti yang hendak beliau makan tersebut dipotong menjadi dua, yang sepotong diberikan kepada musafir dan yang sepotong lagi beliau memakannya.

Maka ketika Sahabat tersebut wafat, Rosulullah Muhammad SAW datang, seperti yang telah biasa dilakukan beliau ketika salah satu sahabatnya meninggal dunia Rosulullah mengantar jenazahnya sampai ke kuburan. Dan pada saat pulangnya disempatkannya singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga almarhum supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musibah itu.

Kemudian Rosulullah berkata,” Tidakkah almarhum mengucapkan wasiat sebelum wafatnya?”

Istrinya menjawab, “Saya mendengar dia mengatakan sesuatu diantara dengkur nafasnya yang tersengal-sengal menjelang ajal”

“Apa yang di katakannya?”

“Saya tidak tahu, ya Rosulullah, apakah ucapannya itu sekedar rintihan sebelum wafat, ataukah pekikan pedih karena dasyatnya sakaratul maut. Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong.”

“Bagaimana bunyinya?” desak Rosulullah.

Istri yang setia itu menjawab, suami saya mengatakan “Andaikata lebih panjang lagi……andaikata yang masih baru..….andaikata semuanya…….” hanya itulah yang tertangkap sehingga kami bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu igauan dalam keadaan tidak sadar,ataukah pesan-pesan yang tidak selesai?”

Rosulullah tersenyum.”sungguh yang diucapkan suamimu itu tidak keliru,”ujar beliau. Jadi begini. pada suatu hari ia sedang bergegas akan ke masjid untuk melaksanakan shalat jum’at. Ditengah jalan ia berjumpa dengan orang buta yang bertujuan sama. Si buta itu tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntun. Maka suamimu yang membimbingnya hingga tiba di masjid. Tatkala hendak menghembuskan nafas penghabisan, ia menyaksikan betapa luar biasanya pahala amal sholehnya itu, lalu iapun berkata “andaikan lebih panjang lagi”. Maksud suamimu, andaikata jalan ke masjid itu lebih panjang lagi, pasti pahalanya lebih besar lagi.

Ucapan lainnya ya Rosulullah?” tanya sang istri mulai tertarik. Nabi menjawab,”adapun ucapannya yang kedua dikatakannya tatkala, ia melihat hasil perbuatannya yang lain. Sebab pada hari berikutnya, waktu ia pergi ke masjid pagi-pagi, sedangkan cuaca dingin sekali, di tepi jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, hampir mati kedinginan. Kebetulan suamimu membawa sebuah mantel baru, selain yang dipakainya. Maka ia mencopot mantelnya yang lama, diberikannya kepada lelaki tersebut. Dan mantelnya yang baru lalu dikenakannya. Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga ia pun menyesal dan berkata, “Coba andaikan yang masih baru yang kuberikan kepadanya dan bukan mantelku yang lama, pasti pahalaku jauh lebih besar lagi”.Itulah yang dikatakan suamimu selengkapnya.

Kemudian, ucapannya yang ketiga, apa maksudnya, ya Rosulullah?” tanya sang istri makin ingin tahu. Dengan sabar Nabi menjelaskan,”Ingatkah kamu pada suatu ketika suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan meminta disediakan makanan? Engkau menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur dengan daging. Namun, tatkala hendak dimakannya, tiba- tiba seorang musyafir mengetuk pintu dan meminta makanan. Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong, yang sebelah diberikan kepada musyafir itu. Dengan demikian, pada waktu suamimu akan nazak, ia menyaksikan betapa besarnya pahala dari amalannya itu.

Karenanya, ia pun menyesal dan berkata ‘ kalau aku tahu begini hasilnya, musyafir itu tidak hanya kuberi separoh. Sebab andaikata semuanya kuberikan kepadanya, sudah pasti ganjaranku akan berlipat ganda.

Sahabat ...
Orang yang BERAMAL BAIK saja dia MENYESAL di AKHIR HAYATNYA...
Bagaimanakah dengan orang yang selama hidupnya BERAMAL BURUK?
Dan janganlah kita MENYESAL karena amal baik kita kurang MAKSIMAL...
Maka marilah BERMUJAHADAH untuk beramal di pengujung bulan Ramadhan dengan lebih giat lagi
Seperti Rasulullah, di setiap 10 hari terakhir beliau lebih giat beribadah dengan beri'tikaf,
Menghidupkan malamnya untuk sholat, tilawah, berdzikir dan berdo'a
Bahkan beliau ber'tikaf 20 hari pada Ramadhan sebelum beliau wafat.

Sahabat ...
Itu Rasulullah yang maksum...
Bagaiamana dengan kita yang masih membutuhkan banyak amal...
Untuk memberatkan timbangan amal di 'Hari Pengadilan'...
Untuk menghapus dosa-dosa yang terus menggunung...

Marilah bergegas, tinggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat...
Perbanyak tilawah Al Quran, Dzikir setiap saat, Sholat Taraweh, bersedekah, memberi makan takjil dsb...
Karena Ramadhan adalah bulan OBRAL pahala,
Bulan penuh rahmat, berkah dan ampunan Allah subhanahu wa ta'ala
Karena kita semua tidak tahu apakah tahun depan masih bisa berjumpa Ramadhan kembali

Sahabat...
Amal ibadah kita bukan untuk keperluan Allah...
Tetapi untuk kepentingan kita sendiri
Allah tidak membutuhkan peribadatan kita...
Kita yang membutuhkan ampunan dan rahmat-Nya
Agar kita selamat di akhirat nantinya...

Allah berfirman (yang artinya) : “Jika kamu BERBUAT BAIK (berarti) kamu berbuat baik BAGI DIRIMU SENDIRI dan jika kamu BERBUAT JAHAT, Maka (kejahatan) itu BAGI DIRIMU SENDIRI”. (Al-Isra:7)

Selamat bermujahadah dalam beribadah Ramadhan..

Penulis : Ogy Febri Adlha

Senin, 23 Agustus 2010

Paku Dan Amarah ?

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan marah sang anak, ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan pada anak itu untuk memakukan sebuah paku di pagar belakang setiap kali dia marah ...

Hari pertama anak itu telah memakukan 48 paku ke pagar setiap kali dia marah ... Lalu secara bertahap jumlah itu berkurang. Dia mendapati bahwa ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan paku ke pagar.

Akhirnya tibalah hari dimana anak tersebut merasa sama sekali bisa mengendalikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabarannya. Dia memberitahukan hal ini kepada ayahnya, yang kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu paku untuk setiap hari dimana dia tidak marah.

Hari-hari berlalu dan anak laki-laki itu akhirnya memberitahu ayahnya bahwa semua paku telah tercabut olehnya. Lalu sang ayah menuntun anaknya ke pagar. "Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku, tapi, lihatlah lubang-lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya. "Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata-katamu meninggalkan bekas seperti lubang ini ... di hati orang lain.

Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu ... Tetapi tidak peduli beberapa kali kamu minta maaf, luka itu akan tetap ada ... DAN luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik ..."

~Author Unknown

Sahabat, memang sangat indah sekali jika kita bisa melihat kesalahan yang ada pada diri kita kemudian meminta maaf kepada orang yang pernah kita sakiti. namun semuanya tidak terlalu berarti jika kita tetap mengulangi kesalahan yang sama untuk yang ke sekian kalinya.

Berbuat kesalahan adalah hal yang lumrah bagi kita sebagai manusia. namun belajar dari kesalahan, intropeksi untuk tidak mengulanginya lagi adalah sebuah hal yang sangat mulia.

Source : wujudkan-mimpi.com

Teruslah Bergerak Dan Bersabarlah !

suatu seorang anak muda datang kepada seorang guru dan bertanya, "berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk meraih kesuksesan?" Guru tersebut menjawab, "sepuluh tahun". anak muda tadi kemudian berkata lagi, "wah lama sekali". Sang guru menjawab, "Tidak, saya salah. kamu membutuhkan waktu dua puluh tahun". Lalu si anak muda bertanya lagi, "mengapa anda menambah jawaban tadi?" Guru tersebut menjawab, "memikirkan tentang hal tersebut, untuk kasusmu maka waktu yang mungkin dibutuhkan adalah tiga puluh tahun".

Banyak sekali orang yang ingin meraih sesuatu dengan cara yang instan. tujuan yang seharusnya dapat dicapai dalam waktu sepuluh tahun, ingin diraih hanya dalam waktu sepuluh hari. Hal itu berarti bahwa mereka melakukan lompatan-lompatan yang besar untuk mencapai tujuan mereka. pepatah kuno mengatakan, "semakin terburu-buru, maka senakin berkuranglah kecepatan".

ketergesaan untuk mencapai sesuatu akan menjadikan kita tidak teliti dan tidak sabar, yang akan mengakibatkan kesalahan atau kegagalan. sehingga kita harus memulai kembali dari tahap awal yang berarti hal tersebut telah menghabiskan energi dan waktu yang kita miliki.

Segala sesuatu itu ada tahapannya, semakin besar keinginan kita maka semakin banyak dan lama tahapan yang harus kita lewati. ibarat berjalan menaiki anak tangga, kita harus berjalan menaiki anak tangga satu persatu dan tidak bisa langsung melakukan lompatan untuk mencapai anak tangga yang puncak. semakin tinggi hal yang ingin kita capai, maka semakin banyak anak tangga yang harus kita lewati. so, bergeraklah terus... dan milikilah kesabaran untuk melewati setiap tahapannya.

seperti halnya menunda, maka ketergesaan pun akan berakibat fatal bagi kehidupan kita. menunda pekerjaan adalah suatu kemalasan dan tidak bertanggung jawab. tetapi melakukan pekerjaan dengan tergesa-gesatanpa perhitungan dan pertimbangan yang masak adalah suatu tanda ketidaksabaran yang bisa jadi akan menghancurkan apa yang telah kita bangun / kerjakan.

semoga kita terhindar dari sifat malas dan tidak sabar.

Source : wujudkan-mimpi.com

Sabtu, 07 Agustus 2010

Syukur Dan Skenario Allah

Suatu ketika, ada sebuah kapal yang tenggelam diterjang badai. Semuanya porak poranda. Tak ada awak yang tersisa, kecuali satu orang yang berhasil mendapatkan pelampung. Namun, nasib baik belum berpihak pada pria ini. Dia terdampar pada sebuah pulau kecil tak berpenghuni, sendiri, dan tak punya bekal makanan.

Dia terus berdoa pada Allah untuk menyelamatkan jiwanya. Setiap saat, dipandangnya ke penjuru cakrawala, mengharap ada kapal yang datang merapat. Namun sayang, pulau ini terlalu terpencil. Hampir tak ada kapal yang mau melewatinya.

Tak lama kemudian, pria ini pun lelah untuk berharap. Lalu, untuk menghangatkan badan, ia membuat perapian, sambil mencari kayu dan pelepah nyiur untuk tempatnya beristirahat. Dibuatnya rumah-rumahan, sekedar tempat untuk melepas lelah. Disusunnya semua nyiur dengan cermat, agar bangunan itu kokoh dan dapat bertahan lama.

Keesokan harinya, pria malang ini mencari makanan. Dicarinya buah-buahan untuk penganjal perutnya yang lapar. Semua pelosok dijelajahi, hingga kemudian, ia kembali ke gubuknya. Namun, ia terkejut. Semuanya telah hangus terbakar, rata dengan tanah, hampir tak bersisa. Gubuk itu terbakar, karena perapian yang lupa dipadamkannya. Asap membubung tinggi, dan hilanglah semua kerja kerasnya semalam. Pria ini berteriak marah, " Ya Allah, mengapa Kau lakukan ini padaku. Mengapa?... Mengapa? ". Teriaknya melengking menyesali nasib.

Tiba-tiba...terdengar peluit yang ditiup. Tuittt.....tuuitttt. Ternyata ada sebuah kapal yang datang. Kapal itu mendekati pantai, dan turunlah beberapa orang menghampiri pria yang sedang menangisi gubuknya ini. Pria ini kembali terkejut, ia lalu bertanya, " Bagaimana kalian bisa tahu kalau aku ada disini? Mereka menjawab, " Kami melihat simbol asapmu!! "

~Author Unknown
Sahabat….
Terkadang kita terlau cepat mengambil kesimpulan atas apa yang terjadi pada diri kita. Sangat mudah bagi kita marah saat sesuatu terjadi diluar rencana kita. Namun kita lupa bahwa ada sang pemilik sekenario yang maha Agung. Yakinlah! Scenario sangat indah, ketika kita merasakan pedih di awal tentu kan ada makna yang terungkap jika kita benar-benar bertawakal...

Buatlah rencana sebaik mungkin, lalu bersungguh-sungguhlah mewujudkan semua hal yang telah kita rencanakan tersebut, kemudian serahkan hasilnya pada Allah. Berprasangka positiflah terhadap apa yang Allah berikan pada kita. Ambil manfaat dan hikmah atas apa yang terjadi pada kita saat ini untuk dijadikan pelajaran di masa yang akan datang.

Hal tersebut selaras dengan firman Allah: "Dan kami pasti akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" (sungguh, kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali), Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. Al-Baqarah (2) : 155-157).
Bahkan, dalam hadis, Rasulullah SAW juga pernah berpesan, "Sungguh, amat mengagumkan keadaan orang mukmin itu, karena semua urusannya itu baik baginya. Bila ia mendapat nikmat (kebahagiaan), dia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan baginya. Dan bila ditimpah musibah, dia bersabar, maka itu menjadi kebaikan baginya." (HR. Muslim).

Sebagai manusia yang diciptakan Allah memiliki naluri atau perasaan, kecewa terhadap hal yang tidak sesuai dengan keinginan itu wajar-wajar saja. Tapi, jangan biarkan pikiran kita merangsek pada pikiran yang negatif (negative thinking) kepada Sang Khalik. Percayalah bahwa itu pemberian terbaik yang Allah anugerahkan kepada kita. Buruk dalam perspektif kita belum tentu buruk dalam perspektif Allah, baik dalam perspektif kita pun belum tentu baik menurut Allah. Meyakini sekokoh mungkin akan skenario Allah SWT dengan penuh ikhlas menerimanya menjadi solusi terbaik agar kita hidup bahagia, tidak diliputi rasa kegelisahan, kekecewaan, dan kesusahan. wallahu'alam..

Sumber : http://wujudkan-mimpi.com/article/13727/syukur-dan-skenario-allah.html

Jumat, 06 Agustus 2010

Jangan Sok Pintar

Ketika seorang pengusaha sedang memotong rambutnya pada tukang cukur yang berdomisili tidak jauh dari kantornya, mereka melihat ada seorang anak kecil berlari-lari dan melompat-lompat di depan mereka. Tukang cukur berkata, "Itu Bejo, dia anak paling terbodoh di dunia". Pengusaha itu kemudian bertanya "Apa iya?". Tukang cukur dengan bersemangat "Mari... saya buktikan!" Lalu, dia memanggil si Bejo, tukang cukur itu merogoh kantongnya dan mengeluarkan lembaran uang Rp 1000 dan Rp 500, lalu ia memanggil bejo dan berkata, "Bejo, kamu boleh pilih dan ambil salah satu uang ini, terserah kamu mau pilih yang mana, ayo nih!". Bejo pun melihat ke tangan Tukang cukur dimana ada dua lembaran uang Rp 1000 dan Rp 500, lalu dengancepat tangannya bergerak mengambil lembaran uang Rp 500.

Tukang cukur dengan perasaan benar dan menang lalu berbalik kepada sang pengusaha dan berkata, "Benar kan yang saya katakan tadi, Bejo itu memang anak terbodoh yang pernah saya temui. Sudah tak terhitung berapa kali saya lakukan tes seperti itu tadi dan ia selalu mengambil uang logam yang nilainya paling kecil".

Setelah sang pengusaha sudah selesai memotong rambutnya, di tengah perjalanan pulang dia bertemu dengan Bejo. Karena merasa penasaran dengan apa yang dia lihat sebelumnya, dia pun memanggil Bejo lalu bertanya "Bejo, tadi saya sewaktu tukang cukur menawarkan uang lembaran Rp 1000 dan Rp 500-an, saya lihat kok yang kamu ambil, uang yang Rp 500, kenapa tidak ambil yang Rp 1000, nilainya kan lebih besar dan dua kali lipat dari yang Rp 500.

Si bejo kemudian melihat dan memandang wajah sang pengusaha, ia agak ragu-ragu untuk mengatakannya. "Ayo beritahu saya, kenapa kamu ambil yang Rp 500," desak sang pengusaha. Akhirnya si Bejo pun berkata, "Kalau saya ambil yang Rp 1000, berarti permainannya akan selesai............"

sahabat...
semoga ini menjadi intropeksi bagi kita pribadi.
banyak orang yang merasa lebih pintar dibandingkan dengan orang lain, sehingga mereka sering menganggap remeh orang-orang disekitarnya. mereka enggan menerima pendapat orang lain karena mereka menganggap pendapat merekalah yang paling benar.
ada juga orang yang menilai orang lain hanya dengan tampilan fisiknya saja. saya pernah melihat seorang dengan penampilan biasa (baju kemeja, celana panjang dan sepatu yang sederhana) datang ke sebuah instansi, namun beliau tidak dilayani dengan baik bahkan cenderung diabaikan. setelah beliau memperkenalkan bahwa beliau adalah anggota DPRD, barulah semua orang disana berusaha melayaninya dengan sangat baik.

semoga kita bukanlah orang orang yang selalu melihat orang dari penampilan, jabatan, kedudukan, atau kekayaan. karena bisa jadi orang yang kita anggap lebih rendah ternyata memiliki nilai yang lebih mulia di mata Allah SWT. bahkan bisa jadi suatu saat nanti merekalah orang yang dapat menyelamatkan kita dari kesulitan

Sumber : http://wujudkan-mimpi.com/article/12823/jangan-sok-pintar.html
Old Wood © 2008. Design by :Yanku Templates Sponsored by: Tutorial87 Commentcute